Seminar Internasional Inakos (THE INTERNATIONAL ASSOCIATION OF KOREAN STUDIES IN INDONESIA)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis (30/3) kami diberi kesempatan untuk menjadi pembicara dalam acara Seminar Internasional yang diadakan oleh Inakos (THE INTERNATIONAL ASSOCIATION OF KOREAN STUDIES IN INDONESIA) Di Gedung Notonegoro Fakultas Filsafat UGM.

Tema yang diambil dalam Seminar tersebut adalah Exploring Strategies for Social Empowerment Cooperation Between Korea-Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut saya diminta untuk memaparkan konsep pengelolaan unit usaha Sapi dengan kandang Komunal yang di gagas Oleh Bumdesa Hanyukupi, Pemerintah Desa Ponjong dan Saemaul Globalisasi Foundation.

Berikut ini materi yang akan kami sampaikan

PENGEMBANGAN AGRIBISNIS BERBASIS SOSIAL MASYARAKAT: INTEGRASI TERNAK SAPI POTONG TERPADU DAN BUDIDAYA TANAMAN PADI
Anang Sutrisno
Direktur BUMDes ‘Hanyukupi’ Ponjong

Latar Belakang
Desa Ponjong merupakan ibu kota Kecamatan Ponjong, dan salah satu desa yang menjadi kawasan perencanaan Ibu Kota Kecamatan (IKK) Ponjong. Dengan potensi yang dimiliki, baik secara geografis maupun kewilayahan, Desa Ponjong mempunyai daya dukung untuk berkembang.Potensi Sumber Daya Air, lokasi Densitas Wisata (DW), pusat aktivitas komersil, dan kedekatannya dengan jalur transportasi Semanu-Karangmojo memberikan dampak pada percepatan perkembangan Desa Ponjong.
Apabila dilihat dari tata guna lahan yang ada, secara umum dapat digambarkan bahwa: fungsi wilayah perencanaan masih didominasi ruang terbuka berupa lahan kering dan lahan pertanian yang dilayani irigasi. Lahan pertanian ini didukung oleh jaringan irigasi dengan sumber air yang diambil dari Sumber Ponjong yang terletak berdekatan dengan kantor kelurahan.
Sektor pertanian-peternakan mempunyai peranan yang cukup penting dalam perekonomian rakyat. Keberhasilan pembangunan di era globalisasi pada milenium ketiga sangat ditentukan oleh berbagai faktor. Dalam UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah disebutkan bahwa upaya percepatan pembangunan ekonomi nasional/daerah akan ditentukan oleh kemampuan kita membangun sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan, dan dilaksanakan secara lebih terdesentralisasi.
Perubahan paradigma pembangunan yang diaturdalam UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah telah membuka peluang sekaligus tantangan kepada daerah untuk mengambil alih tanggungjawab pelaksanaan pembangunan ekonomi, khususnya pembangunan agribisnis, diantaranya sector peternakan.
Salah satu kebijakan pemerintah dalam pembangunan subsektor peternakan di Indonesia adalah upaya untuk mecukupi kebutuhan protein hewani. Pada gilirannya, upaya ini akan berpengaruh terhadap peningkatan kecerdasan bangsa.
Salah satu produk protein hewani adalah daging. Daging dapat dihasilkan dari berbagai komoditasternak, baik yang berasal dari ternak besar, ternak kecil, maupun unggas. Ternak besar terutama sapi, sangat besar peranannya sebagai penghasil daging. Di Indonesia, daging yang berasal dari ternak sapi pada umumnya dihasilkan oleh sapi potong, seperti sapi bali, sapi madura, atau sapi peranakan ongole (PO).
Sampai saat ini, konsumsi daging masih diutamakan untuk pemenuhan permintaan daging dalam hal kuantitas. Hal ini disebabkan dari tahun ke tahun konsumsi daging tersebut semakin meningkat. Oleh karena itu, peluang usaha agribisnis peternakan sangat menguntungkan mengingat kebutuhan daging sapi sangat tinggi dari tahun ke tahun seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin pesat.
Melihat kenyataan tersebut, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)‘Hanyukupi’ Desa Ponjong, Gunungkidul merasa ikut bertanggungjawab untuk menyukseskan program Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dalam menjaga predikat Gunungkidul sebagai gudang ternak (sapi) di Provinsi DIY, serta mengangkat ekonomi masyarakat melalui usaha pertanian berupa bercocok tanam padi.

Konsep Bisnis Cycling
Desa Ponjong menjadi salah satu desa sasaran dalam Program Pembangunan Desa Percontohan Saemaul oleh Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia. Program tersebut akan dilaksanakan selama kurang lebih 5 tahun dimulai bulan Agustus 2015.Dalam pelaksanaan program, Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Desa Ponjong serta didampingi oleh Yayasan Penabulu. Pada tahun pertama, program difokuskan pada pelatihan untuk meningkatkan kapasitas warga serta penggalian potensi desa. Konsep bisnis cycling peternakan terpadu ini adalah hasil dari diskusi bersama antara tim Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia, Yayasan Penabulu,Pemerintah Desa, Kelompok Tani, serta BUMDes.

Kemudian konsep bisnis yang direncanakan oleh pihak-pihak tersebut dipresentasikan dalam acara evaluasi program tahun pertama. Setelah mendapat masukan dari berbagai pihak, tim desa Ponjong siap untuk menjalankan program peternakan terpadu ini. Modal awal dari Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia serta anggaran dari APBDes Ponjong digunakan untuk mengawali usaha. Bulan April 2017 usaha ini akan dimulai dengan pembangunan kandang komunal.
Konsep bisnis cycling ini mengintegrasikan tiga sektor yang ada dimasyarakat untuk saling menguatkan yang nantinya akan menjadi rantai bisnis. Sektor tersebut adalah sektor pertanian, limbah ternak dan peternakan. Desa Ponjong merupakan salah satu gudang pangan di Gunungkidul dengan 80 Hektar sawah yang bisa panen 3 kali dalam satu tahun.Potensi dari pertanian lainnya adalah palawija dan ketela, dan dari potensi pertanian tersebut ada beberapa bagian dari tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak.Misanya, dari budidaya tanaman padi akan dihasilkan beras dan jerami. Jerami ini bisa digunakan sebagai bahan pakan ternak.

Kemudian, dari usaha peternakan akan dikembangkan untuk pembibitan sapi dan penggemukan sapi. Targetnya adalah penambahan populasi sapi serta terpenuhinya kebutuhan daging, sebagai sumber protein hewani bagi masyarakat.
Limbah yang dihasilkan dari ternak sapi adalah kotoran sapi yang dapat digunakan untuk energi alternatif dengan pembuatan Biogas. Selain itu, pupuk yang dihasilkan dapat digunakan untuk pupuk tanaman, semisal untuk pupuk padi dan palawija.
Sementara itu, untuk konsep pengelolaan bisnis peternakan sapi terpadu ini dikelola dalam kandang komunal oleh kelompok masyarakat yang dibentuk menjadi salah satu unit usaha baru bagi BUMDes ‘Hanyukupi’ Desa Ponjong. Keuntungan yang diperoleh dari usaha ini dibagi sesuai dengan prosentase pembagian keuntungan yang tertuang dalam AD-ART BUMDes yang mana secara garis besar keuntungan digunakan untuk pendapatan asli desa, pembangunan desa, pengembangan BUMDes serta untuk pribadi.

Penutup
Unit usaha peternakan sapi terpadu Desa Ponjong merupakan konsep bisnis/usaha berbasis sosial masyarakat. Peningkatan partisipasi serta jiwa kewirausahaan masyarakat merupakan tujuan utama dari kegiatan usaha bersama ini. Harapannya ke depan konsep bisnis cycling yang akan dilaksanakan di desa Ponjong ini bisa menjadi contoh konsep kegiatan usaha yang berkesinambungan di lingkungan masyarakat.

Adapun Inilah Jadwal acara kegiatannya..

Leave a Reply