Romadhon dan Keadilan Sosial

 

Suasana Lebaran
Data yang kami peroleh bahwa sekitar 5 juta warga jakarta melakukan aktifitas tahunan yaitu mudik kekampung halaman.Setelah bekerja hampir satu tahun mereka berbondong ke kampung halamannya untuk bersilaturahim pada saat lebaran.
Perbekalan yang dibawa juga tidak sedikit, mulai dari kendaraan, kue-kue, dan pakaian-pakaian yang akan digunakan untuk lebaran juga tidak ketinggalan. Sebuah tradisi positif walaupun jika dihitung secara materi disatu sisi ini mungkin sebagai hal pemborosan. Tetapi mungkin hal tersebut sebagai harga yang harus dibayar ketika akan silaturahin dan lebaran dikampung halaman.
Jika kita cermati dan kita hitung-hitung selama lebaran ini pemudik mengeluarkan uang sebanyak 3 jt saja . berarti sudah ada potensi selama lebaran ini ada distribusi uang yang mengalir didaerah sebanyak 15 triliun dari warga jakarta yang disebar keseluruh penjuru Indonesia.
Efek yang terjadi sungguh luar biasa untuk daerah yang dijadikan sebagai tujuan untuk medik, perputaran uang berjalan dengan cepat, kebutuhan makanan juga meningkat berlipat-lipat. Hal ini bisa dilihat dari toko kelontong. warung makan, toko pakaian , sampai toko modern yang dibanjiri orang -orang untuk membeli kebutuhannya selama lebaran ini, dan yang menarik hampir semua yang memenuhinya adalah orang – orang yang berwajah asing (pemudik).
Femonema yang menarik juga mobil plat lokal hampir tidak kelihatan karena kalah dengan mobil dengan nomor depan dengan huruf B.Arus lalulintas yang biasanya biasa-biasa saja menjadi hiruk -pikuk,obyek wisata menjadi ramai. Bahkan untuk membeli susu dan pampers anak saja kadang kita rebutan dengan pembeli yang lain. hal yang aneh sebelumnya, dan ini ada ketika pada saat lebaran saja.
Inilah mungkin berkah dari lebaran yang terjadi periodik selama 1 tahun, bagi pedagang ini adalah musim durian runtuh karena sudah jelas  keuntungan yang akan didapatkan selama musim romadhon ini atau angpau yang akan diberikan oleh saudara yang dari perantauan.
Tapi ada satu hal yang menjadi sebuah perenungan andaikan hal ini tidak hanya terjadi dalam satu tahun sekali ,hal ini berlangsung terus menerus. Sungguh luar biasa, efek yang akan dihasilkan, minimal desa dan kota tidak jauh berbeda untuk tingkat ekonomi dan kemakmurannya.
Lebaran sesungguhnya memberikan sebuah gambaran dan pelajaran  yang nyata bahwa tingkat kemakmuran bisa didistribusikan secara rata dari kota kedesa apabila uang juga didistribusikan secara merata kepada masyarakat dari kota sampai desa.Pertumbuhan ekomomi bisa meningkat dan merata apabila ada sebuah kebijakan bahwa uang yang jumlahnya besar  tidak hanya beredar di ibukota jakarta tetapi menyebar keseluruh indonesia.
Ini menjadi sebuah cacatan perenungan diakhir romadhon, semoga bisa direspon oleh para pengambil kebijakan dinegeri ini , sehingga menjadikan negeri ini ,Baldatun toyyiban warobbul ghofurgemah ripah loh jinawi kerto raharjo.amiiin.

Leave a Reply