Konflik Goa Pindul I (Berkah Menjadi Musibah)

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa Gunungkidul menjadi barometer untuk wisatawan yang hadir di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan luas wilayah yang mencapai sepertiga wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebelah selatan berbatasan dengan Pantai Selatan , menyimpan pesona yang luar biasa, konon katanya keindahan pantai selatan Gunungkidul yang bisa ditandingi dengan pantai yang ada di Pulau Bali.

Sederet nama pantai mulai dari Baron, Kukup, Krakal, Sundak,Drini,Wedi Ombo  , Sadeng dan yang terbaru seperti Indrayanti , memiliki ke khasan masing-masing yang bisa menarik pengunjung dari DIY, Solo, Semarang  dan sekitarnya.

 Selain Pantai yang sudah dikenal oleh wisatawan, ada beberapa terobosan yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dan dinas pariwisata kabupaten dan Dinas Pariwisata DIY untuk mengembangkan obyek wisata minat khusus. Karena ternyata di Gunungkidul banyak sekali , Gua-Gua yang didalamnya ada airnya, sehingga menarik dikembangkan untuk wisata khusus seperti susur goa.

Yang menjadi pembicaraan sekarang adalah Susur Goa Pindul yang ada  Gelaran Bejiharjo Karangmojo Gunungkidul. Berbagai media memberitakan tentang keunikan dari Obyek Wisata Gua Pindul ini, dan hasilnya sungguh fantastis. Setiap sabtu -ahad Gua Pindul bisa dikunjungi sampai 1000 orang. Dengan tarif biaya antara Rp 30.000 sampai Rp 35.000 per orang untuk sekali susur Goa Pindul dengan fasilitas baju pelampung dan ban pelampung.

 Dengan banyaknya tamu yang datang ke Gua Pindul, secara otomatis akan mendatangkan rejeki untuk warga di sekitar Goa Pindul . Angka yang didapatkan memang fantastis, dalam satu bulan omset bisa tembus   1 Miliar. Namun kenyataanya mengalirnya rejeki yang masuk ke warga Gelaran tidak mendatangkan berkah namun mendatangkan musibah.

 Berbagai pemberitaan yang menghiasi media Online dan media cetak belakangan ini berisi  tentang kisruh pengelolaan Gua Pindul.antara 3 pengelola (dewa bejo, panca wisata dan wirawisata) dengan Atik Damayanti selaku orang yang mengklaim pemilik lahan di Goa Pindul.

 Bahkan yang lebih menyedihkan adalah Pada hari Kamis (7/3) terjadi perkelahian massal antara kubu Atik Damayanti dengan pihak 3 pengelola ( Dewa Bejo, Panca Wisata dan Wirawisata) dikarenakan pihak Atik Damayanti bersikeras akan menutup paksa Goa Pindul. Sehingga perkelahian tak bisa dihindarkan , walaupun tidak sampai ada korban jiwa , karena kesigapan dari pihak Kepolisian yang segera bisa melerainya.

 Kami  kemudian merenenung sambil bertanya -tanya dalam hati  , gerangan apa yang terjadi di masyarakat sana, apakah materi telah membutakan mereka? apakah rasa kebersamaan sudah memudar? atau memang ada pihak ketiga yang sengaja memperkeruh suasana?

Leave a Reply