Dialog Tiga Jaman

 

Menjadi kebiasaan dari masyarakat perdesaan adalah hidup dengan guyub rukun dan mengutamakan rasa kebersamaan yang sangat tinggi. Besuk tetangga ato teman melahirkan, melayat orang meninggal, Nyumbang orang hajatan , Besuk tetangga sakit merupakan aktifitas yang dilakukan hampir setiap hari.
Tulisan ini dimulai dari inspirasi ketika saya membesuk tetangga saya yang kebetulan diuji oleh Allah dengan sakit  muntaber. Karena agak sedikit parah dan lemes, terpaksa harus dilarikan ke puskemas terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Saya , paman dan tetangga kebetulan besuk bersama-sama ketetangga saya yang sakit. Setelah sampai dipuskesmas kami rombongan disambut oleh anak dari tetangga saya yang sedang sakit.
Mulia dari dialog yang ringan -ringan untuk menghibur si pasien dan berlanjut bercerita pengalaman-pengalaman yang sudah dilakoni oleh sipasien. Karena pasien ini umurnya sudah kepala 8 artinya umurnya sudah 80 tahun lebih.
Tentunya untuk masalah pengalaman dan manis pahitnya hidup sudah tidak diragukan lagi. Ketika beliau bercerita tentang pengalaman hidup , kami yang muda, yang setengan baya ini hanya duduk sempurna untuk mendengarkan cerita yang berisi patuah dan nasihat yang bermanfaat untuk kami.
Cerita mengalir, mulai dari pengalaman beliau mengasuh anak yang jumlahnya 8 orang dengan kondisi yang jauh dari ideal seperti sekarang. Melahirkan aja hanya dibantu dukun,jauh dari syarat standar kesehatan . Sehingga kadang kalau jaman dulu , bayi tu bisa buka mata setelah umur bayi 35 hari. Dan banyak hal-hal yang kadang tidak masuk akal. Seperti tradisi kalau ibu baru melahirkan dilarang makan-makanan yang bergizi seperti telur dan sebagainya. Sehingga asupan gizi anak sangat minim sekali.
Ada juga masa namanya jaman gaber. Jaman dimana makanan sangat susah sekali didapatkan .Karena seluruh lumbung makanan dan pohon-pohon untuk stok makanan (padi,jagung,ketela) habis dimakan oleh tikus. Jadi populasi tikus tidak bisa dibendung, sehingga apa yang ada habis dimakan tikus, sampai ekstrimnya, kalau tidurpun ,kaki bisa digigiti tikus yang lapar.
Pendidikan juga sangat minim, minim fasilitas mulai dari fasilitas transportasi,kualitas sarana dan prasarana sampai perjuangan yang sangat berat hanya sekedar untuk berangkat sekolah karena harus jalan kaki,naik sepeda butut atau berjejalan dikendaraan yang masih jarang-jarang.
Diakhir cerita, si pasien tetangga saya berkelakar, saiki ki apa-apa wis ana, kesehatan dah ok, makanan banyak yang dibuang-buang (mubazir), sekolah sudah pakai sepeda motor sendiri. Tapi masih banyak yang mengeluh bahwa kita kurang makmur, takut punya anak banyak karena ketakutan tidak bisa memberikan makan dan menyekolahkan.
Saya jadi merenung, sebenarnya kemakmuran itu yang seperti apa? kenapa tetangga saya yang banyak anak itu tetap optimis dalam kondisi yang serba kekurangan. Sementara sekarang banyak orang yang banyak mengeluh di tengah kelebihan.

Leave a Reply