>Dialog di Gubug Pinggir Sawah

>

Suatu sore di jalan pinggir sawah didaerahku, aku sempatkan mampir digubuk yang menjadi jujugan (tempat persinggahan) bagi para petani penggarap sawah yang barusan selesai memanen padi dari sawahnya. Gubuk dipinggir sawah  tersebut memang sering digunakan banyak hal ,mulai dari tempat berteduh dari sengatan matahari dan guyuran hujan, untuk makan siang sambil minum teh panas, atau sekedar untuk leyeh-leyeh (santai-santai ) untuk melepas lelah setelah seharian menggarap sawah.
Gubuk Pinggir sawah juga digunakan sebagai sarana untuk bertukar pikiran antar petani , mulai dari pengalaman mengelola sawah, dari taman sampai panen , masalah social kemasyarakatan sampai hiruk pikuk politik serta kondisi yang terjadi yang mereka rasakan.
Saya mencoba untuk masuk dan mencoba untuk menjadi bagian dari mereka dengan bergabung untuk mendengar apa yang mereka diskusikan.
Petani I : Piye rego gabah saiki (gemana harga padi sekarang?)
Petani II:  yo lumayan saiki ana mundake. (ya lumayan ada kenaikan )
Petani II :Tapi saiki seng amblek rego kewan (sapi karo wedus ) mudhune akeh tenan.nek sapi per ekor iso 2 yuto nek wedus yo 200 ewu.(tapi harga hewan turun bamya, sapi harganya turun 2 juta kalau kambing 200 ribu)
Petani I : iyo je , mbuh ki, rego sapi ora  mung mudhun neng ganti rego.(iya,nggak tau ,harga sapi tidak hanya turun tapi ganti harga)
Petani II : jare rego kewan mudun tekne akeh kewan impor sing teko australia.(katanya harga hewan turun karena ada hewan impor dari australia)
Petani I : wah nek ngene terus awaedewe saya susah ki, sakjane kewan ki nggo celengan nyekolahke anak je.lha nek regane mudhun terus njuk piye, awake dewe bakalan ra iso myekolahke anak , nek kondisine ngene terus.(kalau kaya gini terus kita makin susah,kita nnati tidak bisa menyekolahkan anak karena hewan itu sebagia tabungan kita.)
Petani I : nek menurutmu piye mas pemerintah ki?(kalau menurutmu pemerintah gemana mas?)
Aku : nggeh nek menurut kulo,anten kebijakan pemerintah ingkang kedah di tata ulang terait dengan impor kewan . nek iso distop nek ra iso dibatasi dengan aturan yang ketat.supayane awake dewe niki dilindungi deneng pemerintah.lan pemerintah niku kudune men pro karo wong cilik kados awake dewe.(kalau menurut saya,ada kebijakan yang perlu ditinjau ulang tetnatng kebijakan impor hewan, supaya pemerntah melindungi rakyat)
Petani II : setuju aku mas,nek tak rasakke saiki pemerintah ki luwih berpihak karo wong sing nduwe duit, dadi sing sugih tambah sugik sing mlarat tambah mlarat.( setuju mas,kalu dirasakan pemerintah lebih berpihak dengan orang yang punya modal, jadi yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin)
Petani I : ditambah maneh saiki sing rame meneh neng koran presidene gek mumet ngatur partai-partai sing dadi mitra koalisine.gek-gek mengko gur sibuk ngatur partai mitra koalisi marakke lali mikir rakyate lan negarane.(ditambah lagi sekarang presidene baru disibukkan denga mengatur partai mitra koalisi, jangan-jnagan nanti disibukkan dengan mengatur mitra koalisi, lupa memperhatikan rakyat dan negaranya)
Petani II : padahal nek koyo awae dewe ki, mikire sederhana wae , arep koalisi apa ora terserah, sing penting pemerintah ki mikirke koyo awae dewe wong cilik iki,pendidikan murah, rego gabah apik, kerusuhan ora ono lan rego kewan yo apik koyo ndisik.(padahal kalau seperti kita ini, mikirnya sederhana saja.mau koalisi atau tidak terserah, yang penting pemerintah memikirkan kita ini,pendidikan murah,harga gabah baik,aman dan harga hewan bagus.)
Aku : setuju pak.
Petani I : saiki pemimpin ki wes do kelangan kupinge .(sekarang pemimpin itu sudah kehilangan telinganya)
Aku : maksude piye pak? (maksudnya?)
Petani I : dadi pemimpin ki saiki do ora nggunakke kupinge nggo ngrungokke keluhanne masyrakat neng kokoen omong. (jadi pemimpin itu kudune saiki banyak mendengar keluhan masyrakat tapi sekarang justru  banyak berbicara)
Aku : ya to.
Sepenggal dialog tersebut sessungguhnya mengambarkan kondisi yang terjadi dinegara kita, ada perbedaan  cara pandang yang sangat jauh antara penguasa dengan rakyat,ketika rakyat hanya menginginkan kehidupan yang aman, harga kebutuhan pokok bisa terjangkau, mencari pekerjaan mudah, kemudian petani di hargai, sementara elite penguasa berfikir tentang hal yang tidak masuk dipikiran rakyat.
Coba bayangkan apa hubungannya koalisi dengan harga sapi yang sekarang sedang ganti harga, apa hubungannya antara harga komoditas petani naik tetapi petani tidak menikmati kenaikkannya, karena harga komoditas naik itu dikalangan pedangan tetapi harga beli komoditas dari petani tetap rendah.
Inilah PR kita kedepan, ngapain sibuk-sibuk mikirin koalisi,dengan berfikir  siapa yang didepak dan siapa yang dimasukkan. Menteri dari partai apa yang nanti akan diganti atau ditukar posisi. Toh jika kebermanfaatnya hanya untuk elite belaka, sementara hal tersebut tidak merubah kesejahteraan bagi masyakarat indonesia.sudah saatnya kita bekerja dengan rakyat indonesia, bukan hanya mempertahankan citra.
Teriring sang surya yang tenggelam di batas cakrawala, dan gelap menyelimuti muka bumi dengan diiringi jangkrik yang berbunyi bersahutan, aku pulang dengan mengucapkan pamit kepada sahabat-sahabat petaniku sambil berjalan aku merenungkan hikmah dari pembicaraan yang tadi diobrolkan.

Leave a Reply