Mencari Pahlawan Indonesia

Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mu’jizat secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar dalam sunyi yang panjang sampai waktu mereka habis. (M. Anis Matta. Lc)

 

Ketika mendengar kata “pahlawan”, mungkin yang terbayang di pikiran sebagian kita adalah sosok para pejuang yang tercatat namanya dalam sejarah.AdaTeuku Umar dan Cut Nyak Dien, sebagai misal, pahlawan dari serambi Mekah.Adapangeran Diponegoro dari Jawa. Ada Sultan Hasanudin dan Pattimura dari wilayah timur Indonesia. Anggapan itu memang tidak salah, namun juga tidak sepenuhnya benar.

Pahlawan tidak melulu didominasi oleh mereka yang namanya tertoreh dalam kenangan historis. Pahlawan lebih merupakan tindakan ketimbang sebagai sebuah status. Terkadang, adaorang yang kita sangka besar ternyata tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Seringkali banyakorang yang kita sangka pahlawan pada galibnya memiliki perilaku yang jauh dari sebutan pahlawan (baca: pecundang), yang bersembunyi di balik topeng kepahlawanannya yang sudah dimafhumi secara umum.

Pahlawan bukanlah sebuah gelar. Ia lebih merupakan aksi riil seseorang dalam memberikan kontribusi positif terhadap sekitar. Yang mendasari tindakan kepahlawanan adalah kemampuan dan keinginan seseorang untuk menjadi bermanfaat bagi orang lain. Pahlawan adalah ia yang selalu memikirkan kebahagiaan orang lain. Ia memiliki kesadaran untuk menjadi lebih berarti bagi orang lain. Namun, konsekuensinya ia juga sanggup berada under pressure dalam masa yang panjang yang seringkali terasa senyap.

Pun pahlawan bukanlah sesuatu yang built in. Jiwa kepahlawanan tidak diwarisi karena keturunan. Seorang ayah yang pahlawan belum tentu melahirkan anak yang pahlawan juga. Setiap orang memiliki peluang untuk menjadi pahlawan. Tapi perlu kita ingat, pahlawan tidak mesti selalu disebut-sebut orang atau tertulis dalam buku diktat sejarah. Pahlawan, seperti yang disebutkan Rasulullah SAW, adalah sosok-sosok al-atqiyaa’ al-akhfiyaa’ –mereka yang senantiasa berusaha melakukan kebaikan dalam keadaan sunyi, tanpa sepengetahuan orang lain, tanpa pamrih untuk dikenang.

Lantas, bagaimana membuat diri kita menjadi sesosok pahlawan? Paling tidak ada limahal –sebagaimana yang tercerap dari Mencari Pahlawan Indonesia, karya M. Anis Matta—yang perlu kita perhatikan untuk kemudian kita lazimkan:

1. Temukan Motif

Langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah mencari tahu alasan apa sebenarnya yang mendorong kita untuk menjadi pahlawan. Apakah lantaran dorongan popularitas, privileges (hak-hak istimewa yang ingin diperolah), ataukah murni ingin menjadi seorang yang bermanfaat? Selayaknya hanya ridha Sang Kekasih, rabbul izzati, yang menjadi tujuan, yang menjadi landasan dalam bertindak. Setelah itu, kita tetapkan selalu motif tersebut dalam diri, setiap saat, setiap waktu. Setiap aktivitas yang kita lakukan semata mengharap teduh wajah-Nya. Seorang pemuda yang khusyu’ shalat di masjid, benar-benar menjalankan ibadahnya itu semata agar diterima Allah. Bukan lantaran di belakangnya ada calon mertua yang memperhatikannya. Seorang korlap yang berorasi dengan heroik di hadapan kawan-kawannya semata ingin melantangkan kebenaran. Bukan karena ingin menarik simpati pujaan hati yang berada di antara kerumunanmassa aksi. Motif yang benar akan memberi pasok energi tiada henti bagi kita untuk terus bergerak.

 2. Rumuskan daftar kerja

Selanjutnya kita buat daftar kebutuhan umat. Akan muncul begitu banyak hal yang menjadi hajat hidup kebanyakanorang, bila kita cermat mengamatinya. Memang tidak akan mungkin kita memenuhi semuanya. Yang mesti kita lakukan selanjutnya adalah memilih satu atau beberapa bagian dari kebutuhan tersebut dimana kita bisa ambil peran. Dalam membangun sebuah rumah, tidak semuaorang mesti menjadi arsitek. Diperlukan juga tukang batu, tukang kayu, juga bagian konsumsi yang menyediakan makan siang bagi para pekerja agar stamina yang sudah terkuras kembali pulih. Kita tidak bisa menafikan satu peran dan lebih menonjolkan peran yang lain. Kesemuanya mempunyai andil. Tinggal sekarang kita pilih peran mana yang sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas kita.

3. Kembangkan kapasitas diri dari waktu ke waktu

Sejarah membuktikan bahwa orang besar biasanya memiliki karya yang original (asli, belum ada yang melakukan sebelumnya) dan berbobot. Kita mengenal Syaikh Yusuf Al Qaradhawy yang buku-buku karyanya menjadi referensi utama dalam permasalahan umat Islam kontemporer. Ketika beliau ditanya apa yang menjadikan karya-karya beliau begitu meledak di pasaran, beliau menjawab bahwa beliau sangat memperhatikan kualitas tulisan pertamanya. Ketika karya pertamanya mendapat tanggapan yang baik, maka karya-karya berikutnya tinggal mengikutinya. Dan benar, buku pertamanya, Al-Halal wal-Haram fil-Islam (Halal dan Haram dalam Islam), menjadi buku best-seller. Selanjutnya, beliau menjadi lebih bersemangat untuk menulis lebih banyak buku. Buku-buku karyanya yang diterbitkan setelahnya pun laris manis di pasaran dan kualitasnya juga tidak diragukan.

4. Jaga konsistensi

Ketika ketiga langkah di atas sudah kita jalani, yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah menjaga konsistensi (keajegan) kita untuk terus melakukannya. Tidak semestinya kita cepat merasa puas dengan hasil yang sudah didapat, karena hal ini dapat mematikan inovasi dan kreativitas kita. Tidak sepatutnya pula kita menjadi jumawa, mudah tersanjung dengangelar yang diberikanorang. Sanjungan memang hal yang wajar. Tapi, jangan sampai sanjungan itu menjadi sandungan yang membuat kita terpuruk

5. Fokus

Adasebuah cerita menarik mengenai fokus ini. Tersebutlah seorang dari Solo hendak pergi ke Jakarta. Di tengah perjalanan, ia mendapati sebuh pertunjukan jathilan (semacam pertunjukan kuda lumping). Ia pun penasaran dan turun dari bus yang ditumpanginya untuk melihatnya. Jarang-jarang ada pertunjukan seperti ini jaman sekarang, eman kalau dilewatkan, pikirnya. Setelah puas menikmati pertunjukan, ia pun melanjutkan perjalanannya. Namun tidak lama kemudian ia melihat seorang kumal yang dikerubuti banyak orang. Selidik punya selidik, orang berbaju kumal itu adalah seorang gila yang sedang ditanyai nomor togel (coba, mana yang lebih gila?!). Alih-alilh meneruskan safarnya, ia malah turut sibuk minta nomor dan bersama orang-orang yang mewancarai orgil tadi menuju bandar untuk mencoba “peruntungannya”. Begitulah. Setiap ditemuinya hal-hal yang menarik dalam perjalanan, ia senantiasa tergoda untuk “menyelidikinya”. Meski ia tahu bahwa sebenarnya hal itu tidak menambah bekal bagi perjalanannya sedikitpun. Perjalanan Solo-Jakarta yang biasa ditempuh dalam waktu 12 jam menggunakan bus, akhirnya molor menjadi berminggu-minggu. Bekalnya pun menipis, bahkan nyaris ludes.

Ketika kita sudah memilih sebuah jalan yang kita yakini, semestinya kita kukuh untuk tetap menapakinya. Tidak mudah tergoda atau terkecoh dengan sesuatu yang gemerlap. Karena bisa jadi ia hanya menjadi penghambat bagi kita untuk sampai ke cita tujuan. Seseorang harus fokus pada intuisinya (suara dalam jiwanya) sendiri sehingga ia akan tetap fokus padausahanya untuk melahirkan karya-karya besar.

Itulah kelima langkah yang bisa kita tempuh untuk melahirkan tindak kepahlawanan. Akan tetapi, setelah menjadi pahlawan bukan berarti kita meninggalkan jati diri kita sebagai manusia. Pahlawan juga manusia (mengadopsi syair lagu Seurieus) seperti manusia pada umumnya yang mengalami permasalahan hidup, situasi kekanakan, dan juga jatuh cinta. Kita mengenal Umar bin Khattab ra, sesosok pahlawan mukmin sejati, sebagai seorang yang teguh memegang prinsip, tegas membedakan antara yang haq dan batil. Namun suatu ketika beliau berpesan, “Jadilah kamu bak singa di hadapan musuhmu, tapi buatlah dirimu seperti bayi ketika berada di pangkuan istrimu.” Inilah yang membuktikan bahwa pahlawan pun tetaplah seorang manusia.

Yang menjadikannya berbeda adalah pahlawan mampu melakukan kebaikan dalam sebuah momentum yang nilainya melebihi seluruh masa hidupnya. Kelemahan-kelemahan personal yang dimilikinya tidak menjadi halangan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Yang terpenting baginya adalah nilai karyanya mampu melebihi kekurangan-kekurangan tersebut.

Menjadi pahlawan adalah sebuah pilihan hidup, bukan nasib. Dan semestinya kita tidak puas hanya menjadi teman atau kenalan seorang pahlawan. So, mari kita raih takdir kita sebagai pahlawan, baik kita akan dikenang atau tidak.

 

Berat Di Awal

Diilustrasikan jika sebuah kendaraan yang biasanya sering dipakai dan tiba-tiba kemudian berhenti dalam waktu yang lama,maka untuk memulainya dibutuhkan persiapan yang banyak dan perlu dicek kondisi dari keseluruhan kendaraan tersebut. Oli mesin perlu diganti, rem perlu dicek dan perlengkapan yang lainya.

Ini tentunya pekerjaan yang berat dan dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mempersiapkanya. Analogi ini adalah sebuah awalan untuk memulai aktivitas yang sudah sekian lama terhenti, yaitu menuliskan pikiran , berita dan mungkin aktivitas -aktivitas galau yang tersirat di pikiran.

Terasa berat, tetapi mau tidak mau harus dimulai lagi dengan semangat baru, ide-ide baru dan berita-berita baru.

Sebuah  pengharapan, semoga karya kecil ini bisa menjadi dokumen sejarah pemikiran saya dan mungkin bermanfaat untuk masyarakat secara umumnya.Karena saya yakin dengan tulisan, kita bisa menaklukkan dunia.

Belajar Dari Layang-Layang (2)

Layang - LayangDalam posting yang telah saya lakukan terdahulu, dalam judul yang sama, ada beberapa kunci yang menjadikan layang-layang tersebut akan sukses diterbangkan .Salah satu kuncinya adalah dalam membuat layang-layang harus seimbang.

Keseimbangan merupakan kunci dari berbagai hal,mari coba kita urai kata keseimbangan ini dikontek kan dengan berbagai lini kehidupan ini.

Keseimbangan Politik dan Ekonomi

Akhir-akhir ini dimedia massa, sedang marak-maraknya info tentang penolakan masyarakat yang diwakili elemen gerakan kemahasiswaan, ormas, lembaga Swadaya Masyarakat,Partai Politik,Serikat Buruh dan Kelompok Kepentingan berunjuk rasa menolak kebijakan pemerintah yang akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Hal in terjadi karena azaz keseimbangan dalam hidup sudah tidak diperhatikan, karena kebijakan menaikkan harga BBM akan semakin menyengsarakan rakyat kecil.

Efek domino dari kenaikan BBM adalah naikknya harga kebutuhan pokok. Kenaikan BBM belum disetujui namun respon pasar sudah sedemikian cepat dengan  harga kebutuhan pokok sudah meroket.

Dalam hal ekonomi masyarakat, yang kaya akan semakin kaya yang miskin akan semakin miskin. Ini yang menjadi konsep dasar dari ekonomi liberal yang terapkan di Indonesia.

Gejolak mesti akan terjadi karena prinsip keseimbangan sudah digadaikan oleh penguasa dengan menuruti kepentingan kelompok tertentu untuk mengatur ekonomi dan politik dari negara Indonesia.

Keseimbangan Pribadi 

Besar pasak dari pada tiang.Hal ini yang menjadi pepatah yang bisa dijadikan patokan untuk mengatur keuangan hidup pribadi kita, pengeluaran tidak boleh melebihi pendapatan.

Dari pendapatkan yang kita peroleh harus kita sisihkan untuk orang-orang dhuafa dan disimpan untuk ditabung sebagai wujud antisipasi masa depan kita.

Kita sebagai manusia dilahirkan didunia ini juga bagian dari kita menjalankan misi kita sebagai makhluk Tuhan didunia ini.Maka didalam kita mengarungi kehidupan ini jangan sampai prinsip keseimbangan antara orientasi dunia dan akhirat ini tidak seimbang.

Kita tidak dianjurkan mengejar kehidupan dunia  ,sampai lupa dengan kehidupan akhirat atau sebaliknya kita mengejar kehidupan  akhirat tanpa mengindahkan kehidupan dunia ini.

Keseimbangan menjadi kunci dari berbagai hal didalam hidup ini dan ternyata dari  layang-layang kita bisa belajar memaknai   dan ini bisa dijadikan modal didalam mengarungi kehidupan ini.

 

Menguji Kesabaran

Selasa kemarin,anakku yang kedua (Raihanan Zahirah) tiba-tiba suhu badannya naik, Kalau bahasa jawanya slemenget. Padahal sebelumnya tidak ada tanda-tanda kalau akan sakit, karena makannya juga banyak dan badannya baru tumbuh dengan bagus-bagusnnya.

Setelah melihat kondisi sedemikian, kami sorenya memutuskan untuk untuk membawa anak saya kedokter langganan anak saya, karena anak saya punya kecocokan dengan dokter masing-masing, jadi sudah punya langganan sendiri-sendiri sesuai dengan anak saya dan kecocokannya.

Kebetulan anak kedua saya cocok dengan dr Farida Nurohmah (dokter yang bekerja di kantor puskesmas Ponjong dan membuka praktek di jlantir karangmojo.Kebetulan dari awal di Gunungkidul juga sudah menjadi teman perjuangan di GAMAIS (keluarga Mahasiswa Islam Gunungkidul) ,jadi teringat masa perjuangan .

Colek, Rohmat Sugiyarto, Heru Raharjo,Santoso,Pria Amin Latif, Sumiyati,Arif,Farida Nur Rahmah, Mbak Dwi,Ma’ruf

Waduh malah nggrambayang (kemana-mana) ceritane, tapi singkat cerita setelah anak kedua saya bawa ke dokter ida, tanpa panjang lebar , karena  sudah ketemu dengan pawangnya, tinggal tanda sebentar sudah langsung dibuatkan resepnya.

Standar obat penurun panas dan ditambah dengan  ramuan obat batuk ditambah obat anti sesak nafas menjadi obat yang mujarab untuk anak kedua saya. Dan setelah diminunkam reaksi langsung terjadi , suhu tubuh anak saya turun dan batuknya juga sudah reda, sehingga anak saya sudah beraktifitas lagi.

Kondisi tersebut bertahan setengah hari, setelah itu kondisinya ngedrop lagi , jadi mulai rabu sore sampai kamis sore anak saya sudah tidak mau bermain, panas dingin dan mata sayu, pinginnya tidur terus.Feeling saya anak saya menderita sakit yang tidak biasanya.Karena baru saat ini kondisinya tidak seperti biasanya.

Akhirnya saya putuskan untuk dibawa ke puskesmas terdekat , yaitu puskesmas ponjong dan kebetulan sudah ada unit gawat darurat 24 jam . saya rasa puskesmas ponjong , adalah salah satu puskesmas yang paling maju di wilayah kabupaten gunungkidul. Karena setahu saya sudah ada UGD, Rawat Inap,sudah standar ISO 9002 dan kadang dijadikan study banding dengan puskesmas yang lain.

Setelah dicek , dan periksa tahap awal oleh perawat, diputuskan bahwa , anak saya harus dicek darahnya dilab karena suhu tubuh yang tidak stabil selama 4 hari berturut-turut dan disarankan di cek di RSUD Wonosai ,karena lab di puskesmas libur karena bertepatan dengan hari raya nyepi.

Kami menimbang-nimbang, melihat kondisi anak yang ngedrop dan jauhnya jarak serta pertimbangan anak saya masih punya adik yang perlu diperhatikan juga, akhirnya kami berfikir bagaimana caranya supaya tes lab tidak perlu diwonosari tapi cukup dipuskesmas ponjong saja.

Akhirnya ada jalan keluar, setelah kami pikir dan cermati ternyata laborannya adalah saudara saya sendiri dan tetangga satu RT saya, yaitu Mbak Ari Hasanah , umurnya sereting dengan kakak saya.Saya telepon dan  walaupun libur beliaunya bersedia untuk membantu mengecekkan darah anak saya .Alhamdulillah di tengah kesulitan ternyata ada kemudahan.

Setelah di ambil darahnya dan dicek dengan alat-alat lab, akhirnya ketahuan  bahwa anak saya kena gejala Typus dan di sarankan untuk diOpname, karena kondisinya tidak stabil maka juga perlu ditambahkan cairan dengan di infus. Dengan berbagai pertimbangan sehingga kami memutuskan untuk anak saya diopname di puskesmas ponjong.

Masa opname selama dua hari ini merupakan masa-masa yang sungguh sangat memberikan banyak hikmah kepada kami, mulai dari interaksi dengan anak yang sungguh sangat intensif dan masif karena harus standy by menunggui progress dari perkembangan fisik anak saya sampai ujian kesabaran dengan rewelnya anak ketika kondisinya sedang tidak nyaman.

Makan susah, memasukkan obat penurun panas, vitamin , obat batuk dan antibiotik yang kadang sampai harus dipaksa untuk minum dengan memakai rayuan sampai yang kasar (dijagal) supaya mau minum obatnya.

Setelah dirawat 2 hari ini ada perkembangan yang cukup signifikan,panas sudah turun dan sudah normal, nafsu makan sudah ada dan rona wajah sudah berseri-seri.

Semoga besok (ahad) mbak Raihanah Zahirah sudah bisa dibawa pulang , dan bisa bermain lagi dan berkumpul lagi dengan mas Oza dan dek Hanin untuk menghidupkan tawa ceria di rumah kami.

Sebuah perjalanan yang panjang yang sarat dengan makna dan satu hal yang menjadi sebuah pembelajaran bagi kami, bahwa ketika anak sedang sakit dibutuhkan extra  kesabaran untuk menanganinya , dan terbukti bahwa dengan kesabaran itu berbuah kemanisan.

Tips Komunikasi Efektif

Komunikasi adalah hal yang sangat familiar didalam hidup manusia. Selama manusia ada, komunikasi sangat penting.Karena ini berhubungan dengan transformasi ide dan gagasan seseorang untuk bisa ditangkap oleh orang lain.

Ada yang menyebutkan tingkat intelegensi juga berpengaruh kepada komunikasi seseorang dengan orang lain,semakin cerdas seseorang maka semakin gampang komunikasinya. Dengan kata lain semakin efektif komunikasi maka akan semakin gampang komunikasi dapat diterima maksudnya.

Ada 3 komponen komunikasi efetik diantaranya adalah :

1. Ada pengirim dan penerima dari informasi

2. Ada Umpan balik dari informasi yang didapatkan

3. Ada aturan yang harus disepakati

Tips dan trik dalam komunikasi yang efektif adalah sebagai berikut:

1. Gunakan kalimat yang efektif

2. Jangan ada pengulangan ide gagasan

3. Hindari gumaman yang tidak perlu

4. Jangan bicara terlalu lambat

5. Hindari humor yang tidak perlu

6.lebih banyak mendengar

7.jangan memotong pembicaraan

8.Merespon pembicaraan dengan sepenuh hati.

9. Jaga sikap anda

 

 

 

Belajar Dari Layang – Layang (1)

Ku ambil buluh sebatang, ku raut sama panjang , kutimbang dengan benang kujadikan layang-layang . Bermain, berlari, bermain layang-layang …

 

Lagu tersebut sangat familier ketika masa kecilku, lagu yang bercerita tentang proses pembuatan layang -layang sampai memainkannya. Semua ternyata ada seninya dan ada banyak makna yang bisa diambil dari bermain layang-layang.

Bermain layang -layang membutuhkan berbagai banyak hal, mulai dari proses pembuatannya sampai nanti memainkannya.Proses pembuatan ,akan berpengaruh terhadap hasil yang dihasilkan jika nanti layang -layang sudah terbang.

Jika proses penimbangannya tidak seimbang , jika terbang layang-layang akan susah dikendalikan , karena kecenderungannya akan goyang kanan atau goyang kiri.

Begitupun juga, sebagus apapun layang-layang ,jika yang memainkan tidak bisa , maka layang-layang tersebut tidak bisa dimainkan.Seni memainkan layang-layang adalah seni tarik dan ulur dari benangnya.

Seorang pemain layang-layang yang baik akan mengetahui kapan layang-layang tersebut musti ditarik benangnya dan kapan musti diulur benangnya, ini dibutuhkan jam terbang yang tinggi.

Hasil yang memuaskan adalah jika kombinasi antara pembuatan layang-layang dan pemain yang memainkannya memiliki kesatuan yang saling menguatkan.

 

Pemberdayaan Masyarakat (bagian 2)

Dalam tulisan saya sebelumnya,ada beberapa hal yang coba saya tulis dalam hal pemberdayaan manusia, diantaranya adalah seperti filosofi pertumbuhan manusia, dari semenjak bayi sampai dewasa dengan model setiap fase berbeda-beda penanganannya.

Ada beberapa hal yang perlu dipahami juga, bahwa pemberdayaan itu membutuhkan sebuah pengorbanan, kenapa bisa seperti itu? iya karena pemberdayaan merubah pola pikir dan pola sikap dari manusia.

Dalam hal ini dibutuhkan waktu yang panjang untuk melakukan proses perubahan manusia. Sikap perilaku manusia dibentuk dari awal, dari lingkungan pergaulan dan keseharian yang dialami. Hal tersebut sifatnya terus menerus dan menjadi sebuah cara pandang.

Selain itu dibutuhkan pikiran yang memiliki cara pandang yang luas, materi yang tidak sedikit. Karena dalam pemberdayaan kadang kita harus banyak memberi dan berbagi .

Dan yang terakhir adalah konsistensi dan kesabaran kita untuk melakukan edukasi terhadap masyarakat. Jika tidak ada hal ini tidak akan ada perubahan dimasyarakat . Dalam hal ini dibutuhkan orang -orang yang rela berjuang untuk menjadi agen-agen perubahan dimasyarakat.

Agen perubahan inilah yang menjadi motor penggerak perubahan dan orang-orang yang terjun didunia permberdayaan adalah orang-orang yang memiliki jiwa kepahlawanan. Kalau tidak ada jiwa kepahlawanan dan pengorbanan, mustahil pemberdayaan dan perubahan terjadi dimasyarakat.

 

Negeri Kotak-Kotak

Keberagaman memang menjadi sunnatullah dalam kehidupan ini. Artinya jika diasumsikan  ada  2 miliar manusia, maka ada 2 miliara pendapat dan pikiran manusia. Dengan keragamaman akan menimbulkan dinamika didlama hidup ini, Tapi dengan keragaman juga memiliki potensi konflik yang besar juga.

Tetapi dari sekian hal yang berbeda  , ada hal-hal yang tentunya  memiliki banyak kecenderungan kesamaan. Dari titik pangkal kesamaan inilah biasanya manusia berkumpul.Kesamaan ini bisa dilihat dari agama, pandangan politik,hobi dan karena faktor ekonomi yaitu mungkin masalah pekerjaan.

Dengan kesamaan pandangan tersebut , manusia kemudian berkumpul, berdiskusi dan menggagas kegiatan -kegiatan untuk aksi nyata kepada masyarakat.

Itulah realitas yang terjadi dimasyarakat negri kotak-kotak. Mereka bekerja, berkumpul atas dasar hal tersebut, sehingga ketika terlihat dipandangan bahwa masyarakat sudah dibuat dikotak-kotak oleh pandangan dan kepentingan.

Hal ini bagus, ketika bingkai yang dimaksud adalah untuk tujuan kebersamaan, namun, akan menjadi sesuatu hal yang tidak baik jika kotak-kotak inilah yang ditonjolkan.

Kotak-kotak pandangan baik ketika kotak tersebut , dijadikan sebagai sebuah identitas diri, tetapi tidak baik jika terlaku ditonjolkan , karena sunnatullah manusia sudah memiliki pandangan tersendiri.

Sebuah isu kebersamaan adalah kunci dari mengelola keberanekaragaman pandangan, sehingga negeri ini tidak seolah-olah dikotak-kotakkan oleh kepentingan .

 

My Father Is My Hero (Edisi Menjadi Guru)

Motor yamaha RS 1975Seingat saya ayahku memulai karir menjadi guru semenjak tahun 1972, dan ditempatkan diaderah yang pencit magupit gupit (pelosok banget) di SD Klumpit Dusun Klumpit desa Karangasem Kecamatan Ponjong Kabupaten Gunungkidul. Satau ku SD paling ujung timur diprovinsi daerah Istimewa Yogyakarta.

Dari rumah, agak lumayan jaraknya. Kurang lebih 10 KM, dan awal-awal ayahku naik sepeda ontel untuk sampai ke SD tempat mengajar. Menyusuri jalan berbatu dan menanjak. Kadang kalau jalan lagi becek habis diguyur hujan terpaksa sepeda ontel tidak bisa kendarai.

Samapi akhirnya bapak saya bisa membeli sepeda motor tahun 1975. Yamaha RS Silver tahun 1975. Dibeli second dari orang sleman. Berbahan bakar Bensin dan dicampur dengan oli samping. Karena jenis kendaraan ini model 2 tak. Untuk pembakarannya membutuhkan oli samping dan suaranya halus, keluar asapnya.Motor seperti ini sudah tidak dikembangkan lagi karena tidak ramah lingkungan, dan kadang agak boros .

Sampai saat ini motor tersebut masih ada. Dan ketika saya tanya, kenapa tidak dijual saja? Jawab ayah saya. Ben tak nggone ngasih bobrok (biarkan tak pakainya sampai tidak bisa dipakai). Memang sekarang agak sedikit kesulitan suku cadang. Mungkin sudah termasuk barang langka. Tapi buat bapak saya motor yamaha RS Silver 1975 tidak akan dijual karena mungkin memilki kenangan tersendiri.

Jama dulu menjadi guru, bukan menjadi profesi yang diidam-idamkan seperti sekarang, maklum gaji guru tidak seberapa, paling bisa  untuk makan 1 minggu, setelah itu ngutang sana-sini atau kalau masih satu rumah dengan orangtua,nebeng dengan dengan orangtua untuk makannya.

Makanya kalau dulu , saya percaya kalau guru itu disebut pahlawan tanpa tanda jasa memang perjuangan dan komitmen untuk mendidiknya patut diacungi keempat jempol yang kita punya.

Mencari Rumput Untuk Makan ternakDengan kondisi yang demikian, bapak saya mencoba untuk menambah income keluarga dengan bercocok tanam dan beternak. Maklum daerah pedesaan, hal yang umum dalam mencari rejeki adalah dengan bercocok taman , seperti menanam padi , jagung, kedelai dan ketela serta beternak ayam, kambing dan sapi.

Saya ingat, setelah selesai mengajar, bapak  langsung beralih profesi menjadi petani nyambi jadi peternak.Dan hal ini dilakukan sampai saat ini, bapak saya lebih senang perpeluh keringat disawah dan diladang, daripada aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan profesi, sebuah pilihan yang aku hormati.

Seiring perajalan waktu, ganti presiden ganti kebijakan. Guru  diperhatikan oleh penguasa, Seingat saya yang begitu kelihatan adalah kebijakan pada masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) dengan menaikkan gaji guru yang signifikan.Dengan harapan gaji guru naik kesejahteraan meningkat dengan harapan kinerjannya semakin baik dan profesional untuk mendidik anak negeri ini.

Dan yang paling baru ini adalah kebijakan renumerasi atau lebih tenarnya adalah sertifikasi untuk guru.Program ini ditujukan untuk guru , supaya bisa bekerja lebih profesional lagi dan memiliki kompetensi yang lebih. Konon kabarnya tunjangan sertifikasi ini lumayan besarnya, sama dengan gaji pokoknya, dan  diterimakan 6 bulan sekali.

Program pemerintah ini adalah program pernghargaan untuk guru supaya bisa memacu kualitas dari pengajaran dengan imbalan yang lumayan. Maksud program baik , tapi kadang realita dilapangan agak sedikit melenceng.

Konon kabar yang saya dengar penyimpangannya adalah ada aturan tidak tertulis bahwa yang mendapat sertifikasi adalah guru senior dulu, jadi urut kacang dalam bahasa jawanya.Kemudian Portofolio sebagai dasar pengajuan syarat sertifikasi ada yang diorderkan kepihak lain dan datanya kadang tidak valid.

Data tidak valid ini sebagai contoh, saat awal-awal digulirkannya sertifikasi banyak kegiatan-kegiatan seminar dadakan hanya untuk mendapatkan sertifikat untuk tambahan point dalam penskoran untuk lulus tidaknya progran sertifikasi. Jadi semakin aktif dalam kegiatan seminar-seminar dan organisasi kemsayarakat semakin besar kemungkinan lolos program sertifikasi. Tapi kadang banyak oknum guru yang hanya nitip, uang pendaftaran, tidak ikut seminar dan yang penting dapat sertifikatnya.

Kemudian jika tidak lolos portofolio ada program diklat, yang dilakukan selama 14 hari dan setelah diklat ada ujian yang menentuan lulus tidaknya di program sertifikasi tersebut. Intinya berbagai kemudahan yang ditujukan kepada guru supaya dapat lolos program sertifikasi.

Setelah program sertifikasi ini berjalan, memang ada perubahan, minamal sekarang banyak mobil-mobil dan motor bagus yang sudah terparkir dihalaman sekolah dari SD sampai SMU. Rumah yang mentereng dari para pendidik dinegeri ini.

Sebuah pengamatan nyata yang bisa kita lihat, sudah tidak ada lagi guru terlambat karena motornya mogok, atau berpeluh keringat mengayuh sepeda onthelnya. Atau rumahnya yang kusuh karena tidak ada anggaran untuk merenovasi rumahnya.

Bayangkan saja jika gaji pokok Guru PNS 2 Juta maka bisa dipastikan selama 1 tahun 24 Juta adalah bonus dari program sertifikasi beum dari gaji yang didapatkan perbulannya.Lebih heboh lagi kalau suami istri PNS Guru dan Sudah Sertifikasi lebih heboh lagi.He.he..he.

Saya juga belum melihat korelasi kualitas guru sertifikasi dengan kualitas hasil didikan yang didapatkan. Artinya sejauh mana kualitas anak didik sekolah sekarang, lebih majukan atau malah sebaliknya. Belum ada survey yang dilakukan .

Bapak saya juga termasuk orang yang terprovokasi juga untuk mencoba peruntungan untuk lolos program sertifikasi, entah dengan alasan karena dikompori teman-temanya, atau tergiur mendapatkan kompensasi uang dari program sertifikasi atau murni kesadaran untuk meningkatkan kualitas pribadi.

Akhirnya tahapan dilalui, dibuatlah portofolio, saya tidak tahu, portofolio tersebut dibuatkan atau membuat sendiri. Dan singkat cerita diajukanlah portofolio tersebut dan diumumkan bahwa bapak saya tidak lolos portofolio dikarenakan nilainya kurang.dan harus ikut diklat.

Muncul dorongan dan motivasi  dari berbagai pihak, terutama, dari teman-teman guru untuk mengikuti diklat sebagai syarat kelulusan program sertifikasi ini. Tapi sampai batas akhir pendaftaran bapak saya tidak mendaftarakan diri mengikuti diklat sertifikasi, dan tidak akan meneruskan mengikuti program sertifikasi.

Munculnya pernyataan ini menimbulkan pro dan kontra diantara teman-teman bapak saya, banyak yang menyayangkan keputusan bapak saya untuk tidak melanjutkan mengikuti diklat sertifikasi. Dan yang menjadi alasan tidak ikut karena bapak saya memang merasa tidak kualifikasi untuk mendapatkan gelar guru bersertifikat.

Panggilan dilakukan sampai berkali-kali, teman-teman bapak, saya sendiri diminta  membujuk bapak melanjutkan mengikuti diklat. Dan yang terakhir , bapak diminta untuk membuat surat pernyataan untuk meyakinkan bahwa tidak akan mengikuti sertifikasi. Tapi bapak saya tetap pada pendiriannya bahwa tidak akan mengikuti diklat sertifikasi.

Klarifikasi yang saya lakukan dengan bapak saya terkait alasan  penolakannya melanjutkan sertifikasi adalah sebagai berikut: Bahwa dana sertifikasi lebih baik diberikan untuk guru yang masih mengabdi (GTT atau Honorer) yang gajinya masih jauh dibawah standar UMR.Kemudian dan sertifikasi lebih baik digunakan untuk membiayai sarana-prasarana fisik untuk menunjang kegiatan belajar mengajar dan pernyataan yang paling polos dari bapak saya: kalau portofolio sudah tidak lolos, berarti memang saya belum layak bergelar guru sertifikasi, mending saya mencangkul disawah saja…sambil tertawa..

Alasan yang bisa saya terima, walaupun tidak populis dan tidak seperti pikiran orang pada umumnya. Sebuah pilihan yang menimbulkan pro dan kontra.Tetapi dalam kondisi yang seperti apapun, saya tetap akan menghargai dan menghormati pilihan bapak saya. Karena bapak saya adalah pahlawan saya( My Father Is My Hero) .

My Father Is My Hero

Foto Bapak NgainunNgainun ini nama dari bapak saya, lahir 12 Desember 1953 kurang lebih sudah berumur 58 tahun. Walaupun bapak saya pernah cerita kalau tanggal lahirnya yang tepat tidak bisa dipastikan, Maklum jaman dahulu belum ada akta lahir atau alat yang digunakan untuk pengingat tanggal dan tahun. Biasanya orang diingat lahirnya berdasarkan peristiwa yang terjadi pada waktu tersebut. jadi validitasnya sangat diragunakan.

Ngainun dalam bahasa arab artinya mata, mungkin maksud dari simbah saya karena mata itu adalah sumber masuknya informasi dan menjadi orang yang memiliki wawasan yang luas dan dahulu mana-mana itu kebanyakan hanya simple dan cukup satu kata. Sekali lagi ini hanya persepsi saya, sampai tulisan ini saya posting, belum saya cross cek dengan simbah saya (danuri).

Dilahirkan dari pasangan Danuri dan Sumirah di dusun Serut, desa Ponjong, kecamatan Ponjong kabupaten Gunungkidul. Menjadi anak sulung dari 10 bersaudara dengan komposisi 9 laki-laki 1 perempuan .Tambah 1 orang dah kesebelasan bisa main bola.he..he…he.

Semenjak kecil bapak sudah ikut dengan simbah buyut saya,jadi dari kecil sudah terbiasa mandiri.Pekerjaan sehari-hari mencari rumput, bertani dan mandiin dan ngasih makanan sapi sama kuda.Maklum simbah buyut saya berprofesi menjadi pedagang polowijo(kacang, kedelai, gaplek,jawut,padi) lintas provinsi. Pada waktu itu kuda merupakan alat transportasi yang paling top pada jamannya. Kira-kira kalau sekarang ya kendaraan roda empat.

Sesekali bapak saya diajak simbah buyut saya untuk pergi kepasar, membantu membawa barang dagangan dan membantu berjualan juga. Setelah selesai jualan diajak beli jajanan (moci sama makan pindang daging sapi) makanan khas Ponjong.

Kondisi yang demikian tentunya mempengaruhi pola pikir dari bapak saya dan simbah buyut saya. Bahwa yang penting itu nyari duit, urusan membaca, berilmu dan sekolah itu nomor sekian.

Simbah buyut saya juga tipikal orang yang kurang memperhatikan pendidikan , asal bisa baca tulis, bisa hitung menghitung sudah bisa diajak untuk jualan sudah dianggap baik.

Tradisi itu yang coba dirubah oleh bapak saya, setelah lulus SM P , bapak tidak jadi pedagang dan mencoba mengubah alur berfikir orang tua dengan melanjutkan sekolah di SMA.

Pada waktu itu Sekolah SMA harus ngalju karena kampus ada di kota wonosari, dengan sepeda buntut yang bannnya diisi kain bekas, Kalau tidak ngampus tapi rela menunggu dengan jam-jam tertentu, atau kadang harus berpeluh keringat karena harus berjalan kurang lebih 15 KM pulang pergi.

Saya ingat waktu sekolah SMA , jika bapak bercerita pada saat jalan kaki, pergi sebelum subuh dan pulang sampai rumah sudah jam 9 malam. Itu terpaksa dilakukan jika tidak ada ongkos untuk naik angkot.

Untuk menyiasati hal tersebut, beberapa hari kadang bapak ngekost di wonosari , dan pulang biasanya kalau hari sabtu.

1 tahun , bapak bertahan dalam kondisi yang serba kekurangan, kekurangan secara finansial karena sangu yang kadang tidak sampai hari sabtu sudah habis, dan juga tekanan orangtua terutama simbah buyut yang menginginkan lebih baik berdagang daripada melanjutkan sekolah di SMA.

Selanjutnya , ada angin segar untuk pendidikan di Ponjong. Dengan dibukanya SPG (Sekolah Pendidikan Guru) Muhammadiyah Ponjong. Sekarang sudah menjadi SMIK (Sekolah Menengah Industri Kerajinan) Muhammadiyah Ponjong.

Akhiranya dengan berbagai pertimbangan, ayah saya memutuskan untuk pindah sekolah ke SPG Muhammadiyah Ponjong. Dan pada waktu itu ada penyetaraan , bapak saya bisa pindah langsung masuk di kelas 2.

Dan inilah titik awal bagi bapak saya untuk memulai merintis untuk berprofesi  menjadi pendidik atau lebih menterangnya menjadi Guru (digugu lan ditiru). Akhirnya setelah berkutat dengan dunia tulis menulis, konsep-konsep pendidik dan praktek mengajar, akhirnya ayah saya lulus dari Sekolah Pendidikan Guru ( SPG) dan siap untuk menjadi pendidik .