Lagu Untuk Jinnie #Perjalanan Ke Korea Selatan Bagian XI

JinnieNama lengkapnya Yejin Lee, perempuan muda dari korea yang, berprofesi sebagai Interpreter (penerjemah), membersamai kami selama 12 hari di Korea Selatan.

Perempuan asli dari Seoul keturunan Bapaka Dari korea Utara dan Ibu Dari Korea Selatan, dengan berkepribadian periang dan baik hati ini, mendampingi kami untuk menterjemahkan bahasa Korea menjadi bahasa Indonesia.

Dan bagi kami, serombongan, tidak salah jika di pilihkan Jinnie, karena pada tahun 2010 pernah tinggal di Yogyakarta, untuk menyelesaikan S-2 jurusan Bahasa Indonesia Di Universitas Gadjah Mada.Sehingga setidaknya sudah mengetahui karakter orang jawa , yang suka guyon (humor) dan leletan (lamban).

Bagi kami, dialah mata yang mengarahkan kami,

bagi kami, dialah penyambung mulut kami,

bagi kami, dialah penghubung telinga kami

bagi kami, dialah teman diskusi yang dengan sabar membersamai

Bagi kami, walau jauh kita tetap dihati.

“Kita”

(Sheila On Seven)

Di saat kita bersama
Di waktu kita tertawa
Menangis merenung
Oleh cinta

Kau coba hapuskan rasa
Rasa dimana kau melayang jauh
Dari jiwaku Juga mimpiku

Biarlah, biarlah
Hariku dan harimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan manismu

[Chorus 1:]
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t’lah percikkan rasa sayang
Pastikan kita seirama
Walau terikat rasa hina

Sekilas kau tampak layu
Jika kau rindukan gelak tawa
Yang warnai Lembar jalan kita
Reguk dan teguklah
Mimpiku dan mimpimu
Terbelenggu satu
Oleh ucapan janjimu
Dan kau bisikkan kata cinta
Kau t’lah percikkan rasa sayang
Akankah kita seirama
Saat terikat rasa hina

Dan tak terasa, 12 hari sebuah perjalanan kami di Korea Selatan, akan kita akhiri, kami akan kembali ke Desa dengan membawa asa, doa dan harapan.

Dan kamu akan kembali ke Ke Seoul untuk bergabung dengan teman-temanmu yang yang memperjuangkan perbaikan untuk negaramu.

Kami mohon maaf, atas segala kesalahan yang kami perbuat , baik disengaja atau tidak disengaja. Percayalah bahwa semua itu bagian dari perjalanan kehidupan .

Satu hal yang bisa kami sampaikan adalah ucapan terimakasih dan ada sebuah lagu, dan ini juga menjadi doa bagi kita semua, semoga kita bisa bertemu lagi di Yogyakarta.

Yogyakarta

(Adi Adrian/Katon Bagaskara/Kla Project)
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu …

Reff:
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

 

 

 

Kunjungan Ke Agrikultural Research And Extension Services # Perjalanan Ke korea Selatan Bagian X

Kunjungan ke Agriculture ResearchRabu (7/12) dibawah suhu yang empat derajat, masih ada satu tempat yang menjadi salah satu tujuan dari Korea Selatan.

Dengan naik bus yang disediakan oleh panitia, kami berkendara kurang lebih membutuhkan waktu 2 jam, akhirnya sampa di  Agrikultural Research And Extension Services di Provinsi Gyeosangbuk-Do.

Tempat tersebut , semacam tempat untuk penelitian pertanian dan pusat untuk pengembangan alat-alat pertanian. Di Korea Selatan, dari 9 Provinsi, semua memiliki tempat penelitian.

Provinsi Gyeosangbuk-Do dengan penduduk 2,6 juta jiwa merupakan wilayah penghasil buah-buahan (Apel, Melon, Red Papper) terbesar di Korea Selatan.

Menurut Presiden dari Agrikultural Research And Extension Services, Park So Deuk, kantor riset pertanian ini sudah berdiri sejak tahun 1908 dan banyak memiliki mitra kerjasama dengan berbagai negara dan institusi lainnya.

Salah satu yang di kerjasamakan adalah, kerjasama dengan Saemaul Global Foundation, dengan mengembangkan budidaya pertanian padi di negera Senegal Afrika.

Proyek yang di kelola di Senegal, termasuk proyek yang berhasil, dan mendapatkan penghargaan dari presiden negara tersebut. Proyek tersebut, berupa budidaya padi. Semenjak di bantu dan bina, hasil dari panen padi di Senegal, naik secara signifikan, dari panen padi 2,5 Ton/ hektar menjadi 6.5 Ton/ Hektar.


Pusat PembibitanDiinstitusi tersebut, kita diperkenalkan juga tentang konsep pengelolaan hasil pertanian berdasarkan keungulan wilayah. Jadi setiap wilayah  di 23 Kota di Provinsi Gyeosangbuk-Do memiliki komoditas andalan masing-masing.

Kebun TerongSetelah itu kita diajak keliling kantor, dengan melihat pusat pembibitan tanaman pertanian, pengembangan alat-alat modern pertanian dan tempat penyiaran televisi khusus pertanian.

Alsintan


Cacatan, yang saya tangkap ketika, berkunjung ke tempat pembibitan, karena secara suhu dan tanah, tidak cocok dengan tanaman yang ditanam, maka banyak rekayasa yang dilakukan oleh pusat pembibitan dengan memainkan suhu, tempat dan obat-obatan, sehingga konsep ini akan sangat sulit diterapkan oleh petani dengan modal kecil.

Karena investasi alatnya, membutuhkan dana yang tidak sedikit,

Korporasi Usaha Pertanian #Perjalanan Ke Korea Selatan Bagian IX

Post harvestSelasa (6/12) seharian ini kita belajar tentang beras. Salah satu yang menjadi bahan makanan bagi masyarakat korea selatan adalah beras, dari beras semisal diolah akan menjadi nasi, sebagai makanan pokok selain daging, sayur, ikan dan telor.

Sesi awal diisi perkembangan usaha pertanian, khusunya terkait dengan budidaya tanaman padi oleh Prof Kyung-Kyook Park, Dosen Bio -Industri Mechanic di Universitas Nasional  KyungPook.

Selama dua jam,kita berdiskusi dan dijelaskan tentang perkembangan pertanian dari tahun ke tahun di negara Korea Selatan.

Awal tahun 1970, pertanian khususnya budidaya tanaman padi masih sangat konvensional dengan pengerjaan semua masih manusia, dan melibatkan banyak tenaga kerja.

Kemudian setelah tahun 1980, pertanian budidaya tanaman padi, mulai dengan konsep pertanian modern dengan menggunakan berbagai alat pertanian modern, semisal traktor, tracer.

Persis apa yang dilakukan petani budidaya padi diera sekarang di negara Indonesia. Jadi kalau boleh jujur negara kita, terkait dengan industrialisasi , ketinggalan teknologi kurang lebih 30 tahun dengan negara Korea Selatan.

Diera sekarang , pertanian di Korea Selatan sudah industri dan semua menggunakan alat pertanian yang sudah sangat modern, mulai dari helicopter, drone dan mesin perontok padi yang langsung berasnya bisa di packing.

model penyimpanan padiSetelah diskusi,acara dilanjutkan mengunjungi Ke Post Harvest Technology Of Rice in Korea. Kalau dibahasakan di kita semacam lumbung padi sekaligus selepan gabah.

Jadi, hampir disetiap desa di Korea membuat semacam korporasi atau kelompok yang dibuat untuk menampung hasil pertanian semisal Beras.

Hasil dari budidaya pertanian padi, oleh petani dijual ke kelompok tersebut,dengan harga yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Dengan catatan, hanya petani yang menjadi anggota yang bisa menjual ke kelompok tersebut.

Mesin Penggilingan PadiOleh korporasi tersebut, padi yang di beli dari masyarakat, di keringkan, sampai kandungan airnya hanya 14 persen. Setelah itu, di simpan di gudang dengan karung ukuran 750 Kg.

Satu desa, dalam satu tahun, rata-rata, dengan petani berjumlah kurang lebih 3000 orang akan menghasilkan padi kering 6000 ton.

Beras siap eksportKemudian oleh korporasi tersebut, padi di giling menjadi beras,sebagian di jual kepada masyarakat, untuk petani dan sebagain di ekspor ke Malaysia.

Candi Bulguksa dan Keyakinan Orang Korea #Perjalanan Ke Korea Selatan Bagian VIII

Candi BulguksaSalah satu agenda yang kami lakukan di hari Minggu (4/12) adalah mengunjungi salah satu obyek wisata budaya  di Gyeongju.

Tempat tersebut adalah Candi Bulguksa. Candi yang dibangun pada masa Perdana Menteri Gim Dae-Seong pada tahun 751 dilanjutkan oleh Raja Gyeongdeok dan Raja Hyegong sampai tahun 774.

Candi ini dibangun sebagai pusat beribadah bagi agama Buddha Silla yang ada di korea, serta sebagai pertahanan negara dari invansi negara asing.

Tahun 1593, saat Invansi Jepang ke Korea selatan, Candi Bulguksa, dibakar oleh tentara jepang karena di gunakan sebagai tempat bacesamp  bagi milisi Korea.

Dan pada tahun  1969 sampai tahun 1973 oleh pemerintah, Candi Bulguksa di bangun ulang dengan berbagai penyesuaian.Tanpa menghilangkan sesuatu yang menjadi bangunan prinsip, saat seperti bangunan tersebut didirikan.

Pagoda Di Candi BulguksaYang paling pentin dari bangunan jaman kerajaan Silla ini adalah adanya dua pagoda yang dibangun dari susunan batu yang di desain tahan gempa.Pagoda tersebut adalah Seokgatap dan Dabotab

Kertas di LampionPada tahun 1995, Candi Bulguksa menjadi salah satu warisan budaya yang diakui oleh UNESCO.


Sebagaimana diketahui bersama bahwa, Negara Korea Selatan,secara keyakinan, agama Budha menempati nomor 2 agama terbesar, dengan 30 persen penganutnya.

Sementara mayoritas warga Korea, sebesar 50 persen tidak memiliki keyakinan agama(Atheis), 15 persen beragama Kristen dan 15 persen beragama Katolik.

Makanya di sana, untuk Kartu Tanda Penduduk, tidak dicantumkan agama yang bersangkutan. Hanya Nama, tempat tanggal lahir, Nomor KTP serta alamat.

Disana dibolehkan nikah beda agama, asal sudah tercatat di negara sudah dianggap sah.Tetapi secara resmi tidak diperbolehkan poligami.

To be Continue…. (Andong 7.27)

 

 

 

 

 

Spirit Saemaul Undong # Perjalanan Ke Korea Selatan Bagian VII

Munseong-Ri Saemaul UndongDalam menjalankan program saemaul undong, Pemerintah korea membuat sebuah spirit yang akan membangkitkan semangat mensukseskan program tersebut.

Spirit Saemaul undongAdapun spirit dari saemaul undong adalah :

  1. Cooperation (Kerjasama)

Kerjasama adalah modal utama dalam program saemaul undong. semangat ini selalu akan ditumbuhkan untuk menghasilkan semangat untuk bekerjasama bergotong-royong. Sehingga akan menghasilkan kerja yang efektif dengan kekuatan teamwork.

2. Self Reliance (Percaya Diri)

Percaya diri merupakan salah satu modal untuk kita bisa menembus batas.Percaya diri perlu ditumbuhkan untuk mengobsesi kita membangun mimpi dan dengan percaya diri kita bisa mewujudkan mimpi terssebut

3. Diligence(Rajin atau tekun)

Untuk menghasilkan sesuatu tentunya dibutuhkan sebuah kerja yang simultan dengan tim kerja yang baik.Selain itu program saemaul juga mengajarkan akan artinya kerja dengan rajin dan tekun, untuk menghasikan apa yang sudah di cita-citakan.

Itulah spirit yang di tulis di Museum Saemaul Undong Di Desa Munseong-ri yang kami kunjungan pada Sabtu (3/12). Museum yang dibangun dengan menelan dana 148 Miliar ini kita ditunjukkan berbagai hal tentang kesuksesan program saemaul di Desa Munseong-Ri.

Museum ini dibanguan sebagai bentuk apresiasi pemerintah korea kepada Desa yang paling sukses melaksanakan program saemaul undong di Korea Selatan.

Kunjungan Ke Green House,Maeil dan Kyungwoon University #Perjalanan Ke Korea Selatan Bagian VI

green HouseHari Jumat (2/12) kemarin, kami di ajak study keluar kebeberapa wilayah yang ada dikorea Selatan.

Tujuan kami yang pertama adalah, mengunjungi Green House di wilayah Gyongsan. Disana kami di ajak berkeliling kebun pembibitan untuk beberapa komoditi semisal gandum dan Apel.

Pusat Pembibitan NasionalDipusat pembibitan tersebut, juga jadi satu dengan pusat penelitian untuk proses pengembangan komoditas yang ada di Korea Selatan.

Karena kondisi alam dan cuaca yang tidak bersahabat untuk pertanian,maka ada beberapa rekayasa tanaman pertanian  untuk menghasilkan tanaman yang tahan terhadap cuaca, hasilnya juga bisa maksimal. Metode yang digunakan dengan kultur jaringan dan okulasi.

Dari pusat pembibitan nasional, hasilnya akan diberikan kepada petani untuk di tanam.

——————

Kunjungan selanjutnya adalah ke pabrik susu Maeil, kunjungan ini sebagai ganti kunjungan ke peternakan Babi dan Ayam. Dikarenakan ada isu flu burung, maka kunjungan di ganti ke Pabrik susu Maeil.

Pabrik yang beroperasi mulai tahun 1969 ini, awalnya memproduksi susu, ditengah perjalanan dan seiring dengan perkembangan perusahaan, selain susu, ada produk yang lain yang dihasilnya, semisal keju dan yogurt.

——————

Kyungwoon UniversityHari jumat diakhiri dengan kunjungan ke Kyungwoon University, kampus yang berada di pinggir bukit ini, merupakan salah satu kampus yang menjadi pusat studi saemaul undong di Korea selatan.

Mental Orang Korea # Perjalanan Ke Korea Selatan Bagian V

20161201_0944221Saya mau bercerita sedikit tentang bagaimana mental atau karakter dari orang Korea Selatan. Dan ini semua hasil dari rangkuman ketika kami diberikan kuliah umum oleh salah satu Dosen tamu dengan nama Dr Choi Sang-Ho, beliau adalah Direktur Pusat Studi Karakter Di Korea Selatan.

Pada dasarnya wilayah Korea Selatan yang berbukit-bukit dan memiliki empat musim tidak cocok untuk pengembangan pertanian. Karena hanya ada waktu 7 bulan efentif untuk bertanam.Sisanya ketika sudah musim dingin, tidak bisa melakukan aktifitas pertanian.

Makanya jangan heran ketika awal tahun 1970, banyak orang -orang Korea yang meninggal karena kelaparan. Jadi dalam jangka waktu lima bulan mereka harus bertahan hidup tanpa bisa melakukan aktifitas untuk mengolah lahan pertanian.

Melihat seperti ini, akhirnya presiden Park Chung-hee mencanangkan Program Saemaul Undong dengan mengedepankan pembangunan mental masyarakat melalui pembangunan desa,dengan harapan masyarakat yang dulunya miskin menjadi kaya.

Menurut Dr Choi Sang-Ho, negara menjadi kaya atau maju , ada dua faktor  yang harus dimiliki :

  1. Pemimpinya Harus Punya Jiwa Sukarela.

Awal tahun 1970,Korea Selatan sangat tergantung dengan Amerika Serikat, 30 Persen makanan yang dimakan masyakarat Korea Selatan merupakan makanan yang di impor dari Amerika. Dan sampai presiden sudah ganti dua kali Korea tetap miskin.

Tahun 1970, Filipina lebih kaya tiga kali dibandingkan dengan Korea, namun dalam waktu 40 tahun, akhirnya Korea Selatan lebih kaya 10 kali dibandingkan dengan Filipina.

Dan semua ini bisa berubah karena di Korea memiliki pemimpin yang kuat yang bisa menggerakkan masyarakatnya dengan program Saemaul Undong.

2. Mengajak Masyarakat Untuk Semangat Bekerja

Orang Korea rata-rata bekerja selama 15 Jam perhari. Dari pagi sampai malam hari semangat mereka sangat tinggi untuk bekerja di tberbagai bidang yang ada.

Semangat kerja yang tinggi ini, bisa tercipta kerena mental masyarakat yag telah di rubah dengan Program Saemaul Undong.

Dr Choi Sang-Ho, juga menyampaikan bahwa ideologi sebuah negara juga mempengaruhi sebuah negara tersebut bisa maju atau kaya.

Semisal Korea Selatan di bandingkan dengan Korea Utara, sama-sama satu pulau , tapi Korea selatan lebih maju dibandingkan dengan korea Utara ,hal tersebu bisa terjadi karena Korea Selatan berfaham Demokratis  Kapitalis dan Korea Utara berfaham Komunis.

Dalam faham Kapitalis orang bekerja  , maka hasilnya akan berbeda dengan orang yang tidak mau bekerja.Bekerja dengan waktu 10 jam perhari akan mendapatkan upah yang berbeda dengan yang hanya bekerja 5 jam perhari.

Sementara di dalam faham Komunis, semua masyarakat dianggap sama dan semua hal diatur oleh negara, sehingga masyarakat akan susah majunya.

Diakhir sesi, ada sebuah pertanyaan dari peserta di Indonesia yang di tujukan kepada Dr Choi, Kenapa negera Indonesia yang sudah berfaham Demokratis dan sudah menjadi negara republik, tapi sampai saat ini masih tertinggal kemajuannya dibandingkan negara tetangga?

Jawaban dari Dr Choi dengan analisanya, dikarenakan ada dua faktor yang menyebabkan mengara Indonesai belum maju:

  1. Indonesia belum mendapatkan pemimpin yang mau berfikir untuk maju.
  2. Indonesia belum mendapatkan pemimpin yang mau mengajak rakyatnya untuk bekerja dengan giat.

—-To Be continue…..

Kunjungan Ke Propinsi Gyeongsangbuk-Do dan Desa Hahoe # Perjalanan Ke Korea Selatan Bagian IV

Foto di Depan Kantor Provinsi Gyeongsangbuk-DoDisela-sela jadwal training, oleh panitia, untuk pertama kalinya kami diajak mengunjungi ibu kota provinsi di kota Andong yaitu kantor Provinsi Gyeongsangbuk-Do dan Desa Hahoe.

Dari pusat pelatihan House Of Korean Culture kami di rombongan diangkut dengan Bus. Perjalanan kurang lebih membutuhkan waktu 1,5 Jam.

Foto Bersama 8 delegasiSesampai di lokasi kami diterima oleh Guide dan langsung di ajak keliling sambil  menjelaskan secara umum kantor dari Provinsi Gyeongsangbuk-Do.

keramikBangunan dari kantor secara umum mencerminkan gaya dari Korea Selatan, sementara di sana, antara pusat pertumbuhan ekonomi dan pusat pemerintahan di pisah.

Kantor pemerintahan provinsi yang ada disana, jadi satu dengan kantor DPRD Provinsi. Kantor provinsi dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan, gambar dan sejarah dari kelahiran Provinsi Gyeongsangbuk-Do serta hasil karya seni dari masyarakat, sepintas mirip dengan museum.

Makanya, hampir setiap hari, banyak warga yang datang ke kantor tersebut, berkunjung ke musem atau sekedar ngopi sambil membaca koleksi buku perpustakaan .

Desa Hahoe

Desa hahoeSetelah kami puas keliling dan foto-foto di kantor Provinsi Gyeongsangbuk-Do , perjalanan dilanjutkan ke Desa Hahoe di Kota Andong.

Jerami dari hasil pertanianDesa Hahoe merupakan salah satu desa dengan bangunan  yang mempertahankan keaslian bangunannya namun sudah menerapkan pertanian modern.

20161130_1635351 Jalan lurus dan rapiKeunikan desa tersebut, masyarakatnya maju dalam hal pertanian, tapi dilihat dari gaya bangunan rumahnya masih mempertahankan orisinalitasnya semenjak desa tersebut berdiri 600 tahun yang lalu.

Desa ini di dirikan oleh keluarga Ryu, yaitu Ryu Unryong dan Ryu Sengryong, dua bersaudara yang berprofesi sebagai petani yang membesarkan sekolah Concusian pada saat dinasti Jasoen.

Desa tersebut di kelilingi oleh Sungai Nakdong dan jika dilihat dari atas menyerupai tulisan huruf S. Ada yang menyebut, desa Hahoe seperti gambar kecambah.

Rumah Keluarga Ryo Karena lokasi yang dikeliling sungai, maka desa tersebut,menjadi wilayah yang sangat baik untuk menjadi wilayah hunian, wilayah datar, dikelilingi sungai dan di kelilingi pegunungan.

Rumah salah satu artis koreaDi Tepian Sungai NakdongJalan di pinggir sungai NakdongKarena wilayahnya yang luar biasa menarik, desa Hahoe bisanya sering dipakai untuk acara shooting drama korea. Anda tertarik untuk kesana?….

Kenapa Saya Ke Korea Selatan? # Perjalanan Ke Korea Selatan Bagian III

Foto Bersama Forum SeamaulTidak sedikit dari teman-teman saya bertanya kepada saya melalui Medis Sosial baik Whatsap maupun Facebook. Nang ngapain ke Korea Selatan?

Baiklah akan saya jawab, bahwa kedatangan saya ke Korea Selatan adalah dalam rangka memenuhi undangan dari kegiatan 2016 International Saemaul Training Program For The Delegates From 8 Countries.

Program ini ada, ketika desa kita sudah menjadi salah satu program dari Saemaul Undong, dalam hal ini di Indonesia yang memprakarsai adalah Yayasan Saemaul Undong . Kebetulan desa Ponjong program saemaul sudah berjalan satu tahun.

Yang hadir dari kegiatan ini, ada delapan negara dari benua Asia, Afrika dan Amerika, adapun negara yang hadir adalah dari Indonesia, Vietnam, Laos, Kamboja,Guetemala,Iran,,Korea dan Cotedivoire

Adapun dari Indonesia terdiri dari 14 orang delegasi yang mewakili dari BPPM Prov DIY, BAPPEDA Gunungkidul, Desa Ponjong, Desa Bleberan dari Kabupaten Gunungkidul, Desa Sumbermulyo Kabupaten Bantul dan Desa Tanjungwangi Kabupaten Subang Jawa Barat serta dari Yayasan Saemaul Global Foundation dan Penabulu.

Delegasi Dari IndonesiaInilah 14  nama-nama peserta  2016 International Saemaul Training Program For The Delegates From 8 Countries. Dari Indonesia :

  1. Budiman Setya Nugraha
  2. Anang Sutrisno
  3. Heni Nursanti
  4. Sukana
  5. Supraptono
  6. Udi Waluyo
  7. Bambang Riyanto
  8. Eka Sujatmo
  9. Soleh Anwar Hadi Waluyo
  10. Joko Nuryanto
  11. Adlina Nadia Putri
  12. Rian Budi Waluyo
  13. Budi Santsoso Idris
  14. Agustinus Riyogihna

program-training-saemaulBersama dengan peserta lain dengan keseluruhan jumlah peserta 52 orang di training di pusat pelatihan di House of korean Culture selama 12 Hari, dari tanggal 28 November 2016 sampai 9 Desember 2016.

Selama 12 hari agenda di isi dengan materi, diskusi dan kunjungan kerja ke beberapa wilayah di Korea selatan, untuk mendalami program Saemaul Undong.

Di akhir tulisan ini, saya ucapkan puji syukur kepada Allah SWT, karena begitu banyak nikmatnya, salah satu nikmat yang diberikan kepada saya melalui Yayasan Saemaul Global Foundation  adalah  seluruh kegiatan yang saya lakukan disana, dibiayai semua, alias gratis..tis..tis.. (Korea selatan 21.45)…To Be continue…

Serba-Serbi Korea Selatan # Perjalanan Korea Selatan Bagian II

Incheoan AirportKetika saya datang ke Korea Selatan, ada beberapa hal yang langsung saya tangkap terkait dengan berbagai hal. Dan semua ini adalah murni kesan pertama saya, berdasarkan subyektifitas saya menilai,jadi mungkin bisa jadi berbeda dengan cara pandang anda yang lainnya.

Suhu udara saat saya datang lumayan dingin, karena rata-rata dibawah 5 derajat, kebetulan saat ini musim dingin dan beberapa wilayah sudah turun salju.

Jalan di Korea selatanInfrakstuktur

Setelah saya mendarat dibandara Icheon Seoul.Bandara Icheon merupakan bandara internasional dimana lokasinya dekat dengan laut.

Untuk menuju lokasi pelatihan  dilanjutkan dengan perjalanan darat selama kurang lebih 4 jam menuju provinsi Gyeongsangbuk-Do dengan menggunakan Bus.

Dalam perjalanan darat, ternyata Korea Selatan memiliki kontur alam yang berbukit-bukit, jadi jarang ada wilayah yang datar.Kalau di Indonesia, mungkin mirip dengan wilayah saya, gunungkidul dan Wonogiri.

Jalan sudah halus semua dan kalau di Indonesia sudah sekelas jalan Tol. Selama dalam perjalanan saya jarang menjumpai orang yang lewat di pinggir jalan atau ada warung-warung kecil, semua jalan lurus rapi dan bersih.

Adanya konsep rest area dengan fasilitas toilet room, mini market dan juga Stasiun Bahan Bakar.

Jalan semua dibuat lurus, luas dan lajur berkebalikan dengan lajur di Indonesia, kalau kita sebelah kiri,disana ada sebelah kanan.

Semua jalan utama dibuat datar dan lurus, maka ketika kita disana akan banyak menemui jalan-jalan dengan banyak terowongan bawah tanah.

KimciMakanan

Korea Selatan Identik dengan makanan khas namanya Kimci.Jangan ditambahi l ya..he..he..di Indonesia maknanya jadi berbeda banget lho.

Kimci adalah makanan fermentasi, yang berbahan dasar sawi putih dan kentang. Inilah salah satu teknik orang korea untuk mengawetkan bahan makanan sayurnya ketika musim dingin, seperti saat ini.

Dan sampai saat ini, saya belum bisa menaklukkan makanan ini, rasanya yang kecut pedas, tidak cocok dengan selera saya, ketika disodori makanan khas korea ini, saya lebih baik menolaknya.Mungkin masih butuh waktu perut ini untuk beradaptasi dengan makanan khas korea ini.

House Of Korean CulturePusat Pelatihan

Oya, lupa saya ngecamp di House Of Korean Culture Di kota Andong provinsi  Gyeongsangbuk-Do. Selama 12 hari dipusat belajar ini kita akan dikenalkan dengan pola hidup tradisional warga korea bersama dengan 8 negara lainnya sebagai mitra program Saemaul Undong.Negara tersebut meliputi : Indonesia, Korea, Iran, Laos,Vietnam,Kamboja,Guetemala dan Afrika Selatan.

House Of Korean CultureHouse Of Korean Culture merupakan sebuah kawasan  di lengkap dengan berbagai fasilitas, mulai dari pusat pelatihan, rumah model korea, jangpangak, musium confusion ( musuim untuk presiden Park Chung – Hee) dan Rumah Hongik. Kalau di indonesia, semua sudah sekelas hotel, semua ada..

By..By..to be continue….mau belajar dulu..( 07.48. Waktu Andong Korea Selatan)